Saksi Nadiem Jelaskan Manfaat Chromebook untuk Penggunaan dengan Koneksi Internet Terbatas

Persidangan lanjutan terkait dugaan korupsi dalam pengadaan Chromebook yang berlangsung pada Selasa (21/04) lalu menjadi titik penting bagi Nadiem Makarim. Dalam kesempatan ini, Nadiem menghadirkan sejumlah ahli pendidikan serta tenaga pendidik dari berbagai daerah untuk memberikan kesaksian yang membantah tuduhan mengenai inefisiensi dan kerugian negara akibat kebijakan ini.
Peran Kesaksian Guru dalam Membangun Argumen
Nadiem menekankan bahwa keterangan dari para guru merupakan bukti konkret bahwa digitalisasi pendidikan telah mencapai lapisan terendah, sekaligus menangkis anggapan bahwa kebijakan tersebut merugikan negara. “Ini adalah sidang paling emosional bagi saya. Tujuh guru yang datang dari Aceh hingga Papua terbang jauh untuk memberikan kesaksian tentang bagaimana Chromebook telah merevolusi proses belajar-mengajar di kelas mereka,” ungkapnya di sela-sela persidangan.
Keterangan yang diberikan oleh para guru selama persidangan menunjukkan bahwa laptop Chromebook sangat bermanfaat dalam mendukung proses pendidikan. Yang menarik, perangkat ini juga dapat digunakan secara offline, memberikan fleksibilitas bagi para penggunanya.
Manfaat Chromebook dalam Pembelajaran Praktis
Salah satu kesaksian datang dari Denny Adelyta Tofani Novitasari, seorang guru di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Ia menyatakan, “Saya biasanya mengajak siswa untuk melakukan praktek Kimia secara virtual. Chromebook sangat membantu karena memiliki fitur touchscreen yang memudahkan anak-anak memahami materi.”
Arby William Mamangsa, Kepala Sekolah di Kota Sorong, menambahkan, “Chromebook ini masih berfungsi dengan baik meskipun sudah digunakan selama sekitar lima tahun. Perangkat ini dapat menyala dengan cepat tanpa perlu menekan tombol power, dan tetap bisa digunakan secara offline untuk mengakses Google Docs, Sheets, Slides, serta Google Drive. Semua kebutuhan belajar sudah terintegrasi dalam sistem, termasuk data guru dan siswa yang otomatis disinkronkan ke akun masing-masing, sehingga memudahkan akses dan penginputan nilai.”
Pemanfaatan Chromebook di Daerah Terpencil
Pengalaman Muhamad Firman, mantan guru di Kecamatan Belimbing yang kini bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Malawi, Kalimantan Barat, juga menunjukkan efektivitas Chromebook. Ia menjelaskan bahwa penggunaan laptop ini sangat memungkinkan di daerah 3T, meskipun terdapat keterbatasan koneksi internet.
“Saya mencoba menggunakan Chromebook di daerah 3T yang memiliki sinyal terbatas dan mengandalkan energi solar. Saya memanfaatkan perangkat ini untuk mengajar Matematika, terutama menggunakan Google Slide untuk presentasi dan Google Spreadsheet untuk membuat grafik pada pelajaran Matematika. Semua ini saya lakukan secara offline,” ungkapnya.
Perspektif Ahli Pendidikan tentang Efisiensi Anggaran
Tidak hanya guru, tetapi juga ahli pendidikan yang dihadirkan oleh Nadiem memberikan wawasan tentang efisiensi anggaran melalui penggunaan teknologi digital. Ina Liem, seorang ahli pendidikan, menjelaskan bahwa platform digital seperti Platform Merdeka Mengajar (PMM) telah menghasilkan penghematan yang signifikan dalam biaya pelatihan guru.
- Penghematan biaya transportasi dan akomodasi untuk guru.
- Guru dapat meningkatkan kapasitas tanpa keluar rumah.
- Pemanfaatan waktu luang secara efektif.
- Integrasi sistem yang memudahkan akses pendidikan.
- Pengurangan biaya pelatihan secara keseluruhan.
Ina juga menanggapi isu rendahnya IQ nasional yang sering kali disangkutpautkan dengan kegagalan sistem pendidikan. Ia menjelaskan bahwa data IQ yang viral dengan angka 78 berasal dari survei tahun 2018, jauh sebelum Nadiem menjabat. “Rendahnya IQ disebabkan oleh berbagai faktor, seperti gizi dan polusi, bukan hanya tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” terangnya.
Menanggapi Tuduhan di Persidangan
Penasihat hukum Nadiem, Ari Yusuf Amir, menilai bahwa perkara pengadaan Chromebook ini layak disebut sebagai “kasus gaib”. Ia berpendapat bahwa banyak narasi yang dibangun berdasarkan tuduhan yang tidak memiliki dasar kuat ketika diuji di pengadilan.
“Menyebutnya sebagai kasus gaib karena ada cerita yang dibangun, tetapi tidak ada faktanya. Banyak narasi yang diciptakan, namun saat di persidangan, semua itu terbongkar dan tidak ada bukti yang mendukung,” tegas Ari.
Menurut Ari, kehadiran para guru dari seluruh penjuru sangat penting untuk membuktikan bahwa Chromebook itu berguna, efektif, dan bermanfaat. “Mereka adalah orang-orang yang merasakan langsung manfaatnya, bukan sekadar omongan. Ini penting agar kasus ini tidak menjadi sekadar cerita kosong,” jelasnya.
Kesimpulan
Dalam suasana persidangan yang penuh emosi dan harapan, kesaksian dari para guru dan ahli pendidikan menunjukkan bahwa Chromebook memiliki manfaat yang jelas dalam meningkatkan kualitas pendidikan, terutama di daerah-daerah dengan koneksi internet terbatas. Dengan kemampuannya untuk berfungsi secara offline dan integrasi dengan berbagai alat pendidikan digital, Chromebook berperan penting dalam memajukan pendidikan di Indonesia, terlepas dari segala tantangan dan kontroversi yang ada.
➡️ Baca Juga: Balita Korban Kekerasan Seksual di Bandung Barat Mengalami Nyeri dan Dugaan ISK
➡️ Baca Juga: Madrid Wajib Fokus Penuh untuk Kalahkan City




