Jakarta – Kecerdasan artifisial (AI) telah berkembang melampaui sekadar alat untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan. Di kalangan bank sentral, penerapan AI kini menyentuh aspek-aspek krusial seperti stabilitas sistem keuangan, keamanan dalam transaksi, dan inklusi keuangan yang lebih luas. Dalam konteks ini, bank sentral di Asia Tenggara semakin memperkuat kolaborasi untuk menghadapi tantangan yang dibawa oleh teknologi ini. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Ricky P. Gozali, menekankan bahwa tantangan yang dihadapi oleh AI tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja. Pernyataan ini disampaikan dalam pembukaan konferensi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali pada 5 Oktober 2026. “AI membawa tantangan yang perlu ditangani secara kolektif oleh berbagai negara,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu, 7 Oktober 2026.
Tiga Prioritas Bank Sentral di Era AI
Untuk merespons perkembangan AI yang pesat, Ricky Gozali menggarisbawahi tiga prioritas utama bagi bank sentral. Pertama, pentingnya membangun tata kelola AI yang dapat diandalkan, transparan, dan akuntabel. Kedua, memanfaatkan AI dalam menciptakan ekosistem pembayaran yang lebih efisien, aman, inklusif, serta berdaya tahan. Ketiga, memperkuat kerjasama regional melalui SEACEN, yang mencakup dialog kebijakan, pengembangan kapasitas, dan riset kolaboratif.
“AI membawa tantangan yang tidak bisa dihadapi oleh satu negara sendiri. Dengan kolaborasi di kawasan, seperti dalam SEACEN, kita dapat merumuskan pendekatan bersama yang mendorong inovasi dan pada saat yang sama menjaga stabilitas sistem keuangan,” tegas Ricky.
Pentingnya Pembelajaran Bersama
Ricky juga menekankan urgensi pembelajaran dan pengalaman kolektif dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat. “Seiring dengan percepatan transformasi teknologi, pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan akan semakin berharga dalam membentuk masa depan bank sentral,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa bank sentral harus siap beradaptasi dan belajar dari satu sama lain untuk tetap relevan di tengah perubahan yang terjadi.
Interoperabilitas Sistem Pembayaran
Sementara itu, Direktur Eksekutif The SEACEN Centre, Cynyoung Park, menyoroti pentingnya interoperabilitas sistem pembayaran antar negara untuk mendukung integrasi ekonomi di kawasan. Menurutnya, keterhubungan antar sistem harus didukung oleh standar dan regulasi yang kompatibel, serta kerangka pengelolaan likuiditas dan risiko penyelesaian transaksi yang jelas. Penguatan aspek-aspek ini akan memperluas konektivitas pembayaran untuk mendukung perdagangan dan investasi regional.
Kepercayaan Sebagai Fondasi
Di sisi lain, Kepala Ekonom United Nations Development Programme (UNDP) untuk Asia dan Pasifik, Philip Schellekens, menggarisbawahi bahwa kepercayaan adalah landasan utama bagi peran bank sentral di tengah perkembangan AI. Menurutnya, bank sentral perlu memahami dampak AI terhadap perekonomian dan teknologi serta mengantisipasi risiko sistemik yang mungkin timbul akibat ketergantungan pada penyedia platform AI tertentu. Kepercayaan menjadi elemen penting dalam menjaga stabilitas dan memastikan bahwa pemanfaatan AI dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian.
Perspektif Beragam di Konferensi SEACEN
Konferensi yang bertajuk “Central Banking in the Age of Artificial Intelligence: Payments, Regulation, and Financial Stability for a Connected Asia” menghadirkan beragam perspektif mengenai perkembangan AI dan implikasinya terhadap kebijakan bank sentral. Dalam sesi diskusi panel, para narasumber dari European Central Bank, Bank of Korea, Hong Kong Monetary Authority, Banque de France, Asian Development Bank Institute, dan University of Tokyo, berbagi pandangan tentang tantangan dan peluang yang dihadapi oleh bank sentral di era AI.
Pertemuan Eksekutif SEACEN
Rangkaian kegiatan konferensi ini dilanjutkan dengan 25th SEACEN Executive Committee (EXCO) Meeting pada 6 Oktober 2026, yang dipimpin oleh Ricky. Pertemuan ini membahas penguatan tata kelola dan kelembagaan SEACEN sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi bank sentral di kawasan. “Penguatan tata kelola, efektivitas organisasi, dan akuntabilitas adalah landasan penting agar kolaborasi melalui SEACEN terus memberikan nilai tambah bagi semua anggotanya,” kata Ricky.
Langkah Menuju Masa Depan
Dengan adanya AI yang semakin mengakar dalam dunia keuangan, bank sentral di Asia Tenggara dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang yang signifikan. Melalui kolaborasi yang kuat dan pembelajaran yang berkelanjutan, mereka dapat menciptakan kerangka kerja yang tidak hanya mendukung inovasi tetapi juga menjaga stabilitas sistem keuangan. Penekanan pada tata kelola yang baik dan kepercayaan akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal.
Inisiatif Bersama untuk Keberlanjutan
Inisiatif kolaboratif seperti SEACEN sangat penting untuk menciptakan platform bagi bank sentral untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menghadapi tantangan yang dihadapi oleh AI. Dengan mengembangkan standar dan regulasi yang sejalan, negara-negara di kawasan ini dapat meningkatkan efisiensi sistem pembayaran dan memperkuat stabilitas ekonomi regional.
Peran AI dalam Transformasi Keuangan
AI tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk mempercepat proses bisnis tetapi juga sebagai katalisator untuk transformasi besar dalam cara bank sentral dan lembaga keuangan beroperasi. Penggunaan AI dalam analisis data, pengelolaan risiko, dan pengawasan keuangan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional bank sentral. Ini memungkinkan mereka untuk merespons dinamika pasar yang berubah dengan lebih cepat dan tepat.
Inovasi dalam Pembayaran Digital
Salah satu area di mana AI menunjukkan potensi besar adalah dalam inovasi sistem pembayaran digital. Pengembangan solusi pembayaran yang lebih cepat dan aman dapat membantu mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan akses ke layanan keuangan bagi masyarakat yang sebelumnya tidak terlayani. Dengan memanfaatkan AI, bank sentral dapat menciptakan ekosistem pembayaran yang lebih inklusif dan efisien.
Kesiapan Menghadapi Risiko Sistemik
Penting bagi bank sentral untuk selalu waspada terhadap risiko sistemik yang mungkin timbul akibat penggunaan AI. Hal ini mencakup risiko dari ketergantungan pada penyedia tertentu, serta potensi dampak negatif dari algoritma yang tidak transparan. Dengan mengembangkan kebijakan yang berfokus pada pengelolaan risiko dan transparansi, bank sentral dapat melindungi stabilitas sistem keuangan dan memastikan bahwa manfaat dari AI dapat dirasakan oleh semua pihak.
Mewujudkan Sinergi Regional
Keterhubungan antar negara di kawasan Asia Tenggara melalui inisiatif seperti SEACEN sangat penting untuk menciptakan sinergi dalam menghadapi tantangan yang dihadapi oleh AI. Dengan berbagi pengalaman dan praktik terbaik, negara-negara dapat membangun fondasi yang kuat untuk kolaborasi yang lebih baik di masa depan. Hal ini akan memperkuat kapasitas masing-masing bank sentral dalam menghadapi perubahan yang cepat di dunia keuangan.
Menjaga Stabilitas dalam Inovasi
Bank sentral di Asia Tenggara perlu memastikan bahwa inovasi yang dibawa oleh AI tidak mengorbankan stabilitas sistem keuangan. Dengan pendekatan yang hati-hati dan kolaboratif, mereka dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi kepentingan masyarakat. Kepercayaan publik terhadap bank sentral akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas tersebut.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan AI dalam Keuangan
Seiring AI semakin meresap ke dalam sektor keuangan, bank sentral di Asia Tenggara dituntut untuk beradaptasi dan berkolaborasi lebih erat. Dengan fokus pada tata kelola yang baik, keamanan sistem pembayaran, dan kepercayaan publik, mereka memiliki kesempatan untuk mendorong inovasi yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Masa depan keuangan di kawasan ini akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan bank sentral untuk mengelola perubahan yang dibawa oleh teknologi ini dengan bijak.
➡️ Baca Juga: Cara Mengatur Jadwal Latihan Badminton Agar Tubuh Tidak Cepat Lelah Dan Tetap Optimal
➡️ Baca Juga: Hari Kartini 2026: Batin Wulan Dorong Perempuan Maknai Perjuangan R. A. Kartini Lewat Pendidikan
