Atlet Disabilitas Intelektual Menuju Pesonas 2026 Terkendala Akses dan Sumber Dana

Jakarta – Menjelang pelaksanaan Pekan Special Olympics Nasional (Pesonas) 2026 yang akan berlangsung di Kupang, Nusa Tenggara Timur, para atlet disabilitas intelektual yang tergabung dalam Special Olympics Indonesia (SOIna) menghadapi berbagai tantangan. Terutama, mereka mengalami kesulitan dalam hal aksesibilitas dan pendanaan yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam kompetisi ini.

Dukungan untuk Atlet Disabilitas Intelektual

Jonna Aman Damanik, yang menjabat sebagai Komisioner Komite Nasional Disabilitas (KND), mengungkapkan bahwa acara berskala nasional dan internasional yang diselenggarakan oleh SOIna sangat membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Ini termasuk pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, serta tokoh masyarakat dan anggota DPRD.

“Kegiatan seperti yang diselenggarakan oleh SOIna seharusnya mendapatkan dukungan penuh dari semua elemen. Pemerintah, sektor swasta, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk DPRD, dapat berperan aktif dalam membantu atlet berbakat dari kalangan disabilitas intelektual,” jelas Jonna di Jakarta pada Rabu, 30 April 2026.

Kolaborasi Lintas Sektor

Jonna menambahkan bahwa KND, sesuai dengan amanah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, siap untuk berkolaborasi dengan SOIna dalam menjalin kerjasama antar sektor kementerian. KND juga memberikan dukungan terhadap upaya SOIna yang bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk berkoordinasi dengan Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian HAM, serta Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai sektor-sektor utama yang terlibat.

“Ribuan atlet disabilitas intelektual seperti mereka yang menyandang down syndrome dan autisme sangat membutuhkan perlindungan yang berorientasi pada hak asasi manusia. Selain itu, mereka juga memerlukan dukungan untuk mencapai rehabilitasi sosial yang lebih produktif,” tambahnya.

Pantauan dan Dukungan untuk Atlet

Sebelumnya, KND juga telah melakukan pemantauan terhadap pemenuhan hak keolahragaan bagi atlet disabilitas fisik yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia pada tingkat ASEAN. Kini, perhatian tersebut dialihkan untuk mendukung atlet SOIna dalam ajang Pesonas 2026 yang akan diikuti oleh perwakilan dari 30 provinsi di Indonesia.

Warsito Ellwein, Ketua Umum Pengurus Pusat SOIna, mengungkapkan bahwa banyak atlet dari daerah terpencil yang meskipun memiliki keterbatasan akses dan sumber daya, tetap mampu meraih prestasi di tingkat nasional maupun regional Asia Pasifik.

Kendala Partisipasi Daerah

Namun, partisipasi daerah dalam Pesonas masih dihadapkan pada berbagai kendala. “Saat ini, baru 21 provinsi yang siap berpartisipasi dari target 30 provinsi yang diharapkan, dengan jumlah atlet yang terdaftar sekitar 420 orang dari total target 800 hingga 1.000 peserta,” ungkapnya.

Warsito juga menambahkan bahwa sebagian besar tim yang terdiri dari atlet, pelatih, ofisial, dan pendamping masih berangkat secara mandiri dengan biaya swadaya. Keterbatasan anggaran dari APBD NTT dinilai hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti penginapan, dukungan medis, dan transportasi menuju arena pertandingan selama satu minggu penyelenggaraan.

Inisiatif Penggalangan Dana

Untuk mengatasi masalah keterbatasan tersebut, SOIna mendorong skema subsidi bagi daerah yang mengalami kekurangan dana melalui penggalangan dana. Ini termasuk rencana kegiatan donasi, seperti gala dinner yang bertujuan untuk mengumpulkan dana tambahan.

Warsito juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTT dan DPRD setempat atas dukungan mereka dalam penyelenggaraan Pesonas 2026. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan yang diberikan, yang sangat krusial untuk kesuksesan acara ini,” katanya.

Target Peningkatan Jumlah Atlet

Melihat ke depan, SOIna menargetkan peningkatan jumlah atlet yang akan dikirim ke ajang global. Pada World Games 2023 yang berlangsung di Berlin, Jerman, delegasi Indonesia terdiri dari 25 orang. Untuk World Summer Games 2027 yang akan diadakan di Santiago, Chile, mereka menargetkan jumlah atlet meningkat menjadi 63 dari berbagai cabang olahraga.

Di samping itu, Komite Kepanitiaan Gala Dinner, yang dipimpin oleh Hari Subagyo, menyatakan bahwa mereka telah mengirimkan surat permohonan audiensi kepada Prabowo Subianto melalui Sekretariat Negara. “Kami yakin bahwa jika surat kami diterima oleh Presiden, beliau akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan atlet-atlet berbakat ini di tengah kesibukannya,” ujarnya.

Peran Masyarakat dalam Mendukung Atlet Disabilitas Intelektual

Partisipasi masyarakat sangat penting dalam mendukung atlet disabilitas intelektual. Kesadaran dan kepedulian dari berbagai elemen, termasuk individu, komunitas, dan organisasi, dapat memberikan dampak besar dalam menciptakan lingkungan yang inklusif untuk atlet-atlet ini.

Dengan dukungan yang kuat dari masyarakat, atlet disabilitas intelektual dapat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bersaing dan menunjukkan potensi mereka di tingkat nasional maupun internasional. Upaya bersama ini tidak hanya akan membantu mereka meraih prestasi, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan isu-isu yang dihadapi oleh atlet disabilitas di Indonesia.

Kesimpulan dan Harapan

Pesonas 2026 menjadi momentum penting bagi atlet disabilitas intelektual di Indonesia. Dengan dukungan yang tepat dari semua pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, diharapkan atlet-atlet ini dapat mengatasi berbagai kendala yang ada, serta memberikan kontribusi yang signifikan dalam dunia olahraga. Kesempatan untuk berpartisipasi dalam ajang bergengsi ini bukan hanya merupakan kebanggaan bagi mereka, tetapi juga menjadi cermin kemajuan masyarakat dalam menghargai keberagaman dan inklusi.

➡️ Baca Juga: HP Terbaru Hadir dengan Mode Eye Comfort untuk Menjamin Kenyamanan Aktivitas Layar Panjang

➡️ Baca Juga: Tiga Personel TNI Terluka Akibat Serangan di Lebanon, Keamanan Diperketat

Exit mobile version