ICRAF Mengumumkan Laporan Kerentanan Krisis Iklim di Sulawesi Selatan secara Resmi

MAKASSAR – Lembaga penelitian International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) baru saja mengeluarkan laporan mengenai kerentanan daerah-daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) terhadap dampak perubahan iklim. Sejak tahun 2021, ICRAF yang didukung oleh Pemerintah Kanada telah melaksanakan program bernama Land4Lives, yang berfokus pada wilayah hulu dan hilir, serta Daerah Aliran Sungai (DAS) Bila Walanae di Kabupaten Bone, Sulsel. Direktur ICRAF Indonesia, Andree Ekadinata, menyatakan, “Tidak ada satu daerah pun yang dapat disebut sebagai yang paling prioritas, karena setiap wilayah memiliki bentuk kerentanan yang berbeda-beda.” Temuan ICRAF menunjukkan bahwa daerah pesisir Sulawesi Selatan mengalami tingkat kerentanan yang tinggi terhadap perubahan iklim, yang disebabkan oleh panjang dan lekukan garis pantai daerah tersebut.
Andree menambahkan bahwa penanganan terhadap isu perubahan iklim tidak dapat dilakukan secara terpisah berdasarkan wilayah administrasi. Keterkaitan antara kondisi hilir dan hulu sangatlah penting. Oleh karena itu, kerja sama antarkabupaten, terutama antara wilayah hulu dan hilir, menjadi krusial. “Pemerintah perlu memahami karakteristik kerentanan masing-masing wilayah dan merumuskan intervensi yang tepat,” tuturnya. Ia juga menekankan bahwa tantangan terbesar dalam mengatasi krisis iklim adalah kompleksitas masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, petani, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk menemukan solusi yang efektif.
Pentingnya Kerjasama Multisektoral dalam Penanganan Krisis Iklim
Dalam menghadapi perubahan iklim, sinergi antar berbagai pihak sangatlah diperlukan. Masing-masing pihak memiliki peran dan kontribusi yang berbeda. Pemerintah, misalnya, diharapkan dapat menciptakan kebijakan yang mendukung ketahanan iklim secara menyeluruh. Di sisi lain, petani memiliki pengetahuan lokal yang sangat berharga, yang harus dikembangkan dan direplikasi untuk mencapai keberlanjutan.
Peran Akademisi dalam Pengembangan Pengetahuan
Akademisi juga memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pengetahuan yang ada agar dapat menjadi referensi yang lebih luas. ICRAF merekomendasikan tiga langkah utama untuk mengelola bentang lahan di Sulawesi Selatan:
- Mempertahankan fungsi lahan yang masih baik.
- Memulihkan bagian lahan yang telah mengalami kerusakan.
- Memanfaatkan lahan secara bijaksana.
Ketiga langkah ini telah dituangkan dalam peta intervensi yang diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Peta tersebut mencakup wilayah yang perlu mendapatkan perhatian untuk dipulihkan, dipertahankan, atau dimanfaatkan secara bijaksana.
Strategi Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim
Kesadaran akan dampak perubahan iklim semakin meningkat, dan Sulawesi Selatan tidak terkecuali. Oleh karena itu, penting untuk mengadopsi strategi adaptasi yang tepat. ICRAF menekankan bahwa strategi tersebut haruslah berbasis pada data dan riset yang akurat untuk memastikan efektivitasnya.
Rencana Aksi untuk Menghadapi Kerentanan
Rencana aksi yang diusulkan mencakup serangkaian langkah konkrit yang dapat diambil oleh pemerintah dan semua pemangku kepentingan. Di antaranya:
- Melakukan survei dan penelitian untuk memetakan kerentanan.
- Mengimplementasikan program pendidikan bagi masyarakat tentang perubahan iklim.
- Mendorong praktik pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.
- Memperkuat infrastruktur untuk mengurangi risiko bencana akibat perubahan iklim.
- Membangun jaringan kolaborasi antar daerah untuk berbagi pengalaman dan sumber daya.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu Sulawesi Selatan dalam mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, serta meningkatkan ketahanan masyarakat dan lingkungan hidup.
Pentingnya Pemahaman Lokal dalam Penanganan Krisis Iklim
Pemahaman tentang karakteristik lokal sangat penting dalam merumuskan intervensi yang efektif. Setiap daerah di Sulawesi Selatan memiliki kondisi geografis dan sosial yang unik, sehingga strategi yang diterapkan harus disesuaikan dengan kondisi tersebut.
Menyesuaikan Intervensi dengan Kearifan Lokal
Penggunaan kearifan lokal dalam penanganan krisis iklim harus menjadi bagian integral dari pendekatan yang diambil. Hal ini meliputi:
- Penerapan teknik pertanian tradisional yang telah terbukti berkelanjutan.
- Pengembangan sistem irigasi yang efisien dan ramah lingkungan.
- Pengelolaan sumber daya air yang bijaksana.
- Pemberdayaan masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait penggunaan lahan.
- Promosi praktik konservasi yang sesuai dengan budaya lokal.
Dengan melibatkan masyarakat dan mengedepankan kearifan lokal, upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dapat dilakukan dengan lebih efektif.
Kesimpulan yang Menginspirasi Tindakan
Melalui laporan kerentanan krisis iklim di Sulawesi Selatan, ICRAF menunjukkan betapa mendesaknya untuk segera mengambil tindakan. Kerjasama multisektoral, pemahaman lokal, dan adaptasi yang berbasis pada data adalah kunci untuk mengatasi tantangan yang dihadapi. Sambil memanfaatkan pengetahuan yang ada, dan dengan dukungan dari semua pihak, Sulawesi Selatan dapat membangun ketahanan yang lebih baik terhadap krisis iklim yang menghampiri. Dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti, kolaborasi dan inovasi menjadi landasan untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan.
➡️ Baca Juga: Libur Paskah Meningkatkan Kunjungan Wisatawan ke Kepulauan Seribu
➡️ Baca Juga: Manfaat Rutin Berenang untuk Mencapai Postur Tubuh Ideal dan Proporsional




