Listrik Kembali Menyala, Warga Desa Agusen Rayakan Lebaran dengan Sukacita

Di tengah tantangan yang dihadapi oleh warga Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kembalinya aliran listrik ternyata menjadi sumber kebahagiaan. Setelah lebih dari dua bulan mengalami pemadaman total akibat banjir bandang yang melanda pada akhir November 2025, masyarakat setempat bersyukur dapat menyambut Lebaran dengan penuh sukacita. Dengan listrik kembali menyala, mereka dapat menjalani ibadah puasa Ramadhan dan merayakan Idul Fitri dengan lebih nyaman.

Memori Kelam Banjir Bandang

Kisrah, Ibu Kepala Dusun Singah Mule, menjelaskan mengenai dampak bencana yang dialami oleh komunitasnya. Saat ditemui di kediamannya, ia mengungkapkan bahwa pemadaman listrik berlangsung lebih dari dua bulan, membuat kehidupan sehari-hari menjadi sangat terbatas. Masyarakat terpaksa beradaptasi dengan keadaan yang sulit, terlebih pada malam hari ketika kegelapan meliputi desa.

Dalam situasi tersebut, aktivitas sehari-hari menjadi terhambat. Kisrah mengisahkan bagaimana malam-malam di Desa Agusen terasa sangat sunyi, dengan penerangan hanya bergantung pada lampu teplok. Kebanyakan aktivitas pun terpaksa diakhiri lebih awal karena keterbatasan pencahayaan.

Dampak pada Kehidupan Sehari-hari

Rasa keterbatasan ini sangat terasa di berbagai aspek kehidupan, termasuk di dapur. Kisrah dan tetangga-tetangganya kembali menggunakan kayu bakar untuk keperluan memasak. Mereka juga memanfaatkan tenaga surya dari fasilitas masjid secara bergantian untuk mengisi daya ponsel, menunjukkan kreativitas dan semangat saling membantu di tengah kesulitan.

“Dalam kondisi gelap, anak-anak pun kesulitan belajar pada malam hari. Waktu berkumpul keluarga menjadi lebih singkat karena setelah Magrib, sebagian besar warga memilih segera beristirahat,” ungkap Kisrah, menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh semua keluarga di desanya.

Harapan di Tengah Kesulitan

Namun, harapan mulai muncul ketika aliran listrik kembali menyala secara bertahap menjelang Ramadhan. Kisrah menyatakan bahwa kehadiran jaringan listrik yang pulih telah memberikan perubahan yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan listrik kembali menyala, masyarakat dapat melaksanakan ibadah dengan lebih baik, dari persiapan sahur hingga saat berbuka puasa.

Kembalinya penerangan ini juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar mengaji dengan lebih nyaman. “Benar, tidak hanya menarik kabel baru, petugas PLN juga menggantikan meteran listrik rumah warga yang rusak,” jelas Kisrah, menegaskan kerja keras yang dilakukan oleh pihak terkait untuk memulihkan kondisi desa.

Keberadaan Dusun Singah Mule

Desa Singah Mule adalah salah satu dari empat dusun dalam administrasi Desa Agusen. Total penduduk di Agusen mencapai 279 keluarga, semuanya terdampak oleh bencana banjir. Dari jumlah tersebut, sekitar 155 kepala keluarga terpaksa menghuni rumah hunian sementara karena rumah mereka rusak parah atau bahkan hancur tergerus arus.

Beberapa warga memilih untuk tetap tinggal di rumah lama mereka atau memperbaikinya dengan memanfaatkan material yang tersisa dari banjir, termasuk keluarga Kisrah yang tetap berjuang untuk bangkit dari keterpurukan.

Rasa Empati di Tengah Bencana

Meskipun warga Dusun Singah Mule tidak terlampau parah terdampak karena lokasinya yang jauh dari aliran sungai, Kisrah mengaku sangat terpukul melihat kondisi bencana yang menimpa lingkungan sekitarnya. Banyak warga yang harus menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki puluhan kilometer untuk mengungsi, akibat akses jalan yang terputus dan rumah serta harta benda yang hilang tersapu banjir.

Dalam suasana haru, Kisrah menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah dan berbagai pihak yang terlibat dalam upaya pemulihan pascabencana. Dukungan dari PLN, TNI, Polri, BNPB, dan BPBD Gayo Lues, serta relawan, sangat berarti bagi masyarakat, memungkinkan mereka untuk menjalani Ramadhan dan merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 dengan tenang.

Perubahan Positif Setelah Bencana

Kembalinya listrik ke desa ini bukan hanya sekedar soal penerangan, tetapi juga memberikan dampak luas bagi kehidupan masyarakat. Aktivitas ibadah selama Ramadhan menjadi lebih lancar, dan suasana desa yang semula sepi kini sedikit demi sedikit kembali hidup. Dengan adanya listrik, warga bisa kembali menjalani rutinitas mereka dengan lebih baik.

Kisrah menambahkan, “Kami sangat bersyukur. Dengan listrik kembali menyala, hidup kami kembali normal, dan semangat kebersamaan dalam menyambut Lebaran semakin kuat.” Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah komunitas dapat bangkit dan bersatu di tengah tantangan.

Kesimpulan

Kisah warga Desa Agusen adalah cerminan dari ketahanan dan semangat masyarakat dalam menghadapi bencana. Kembalinya listrik ke desa mereka bukan hanya mengubah kondisi fisik, tetapi juga menghidupkan kembali harapan dan kebahagiaan di tengah kesulitan. Dengan dukungan yang kuat, mereka dapat merayakan momen-momen penting dalam hidup mereka dan bangkit dengan semangat baru.

➡️ Baca Juga: Patroli Dialogis Polisi di Pusat Perbelanjaan Kepatihan, Warga Diminta Waspada Kejahatan

➡️ Baca Juga: Korut Lakukan Uji Coba Peluncur Roket Ganda dengan Kapasitas Nuklir yang Meningkat

Exit mobile version