Nominasi FFI 2026 Dapat Kritikan, Arie Kriting Dukung Irma Rihi Secara Terbuka

Jakarta – Sektor perfilman Indonesia sedang dalam sorotan tajam setelah pengumuman daftar nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2026. Kekecewaan muncul ketika Irma Rihi, aktris berbakat dari Indonesia Timur, kembali tidak mendapatkan tempat dalam nominasi, meskipun telah memberikan penampilan yang mengesankan. Arie Kriting, seorang aktor dan sutradara, tidak tinggal diam dan memilih untuk angkat bicara. Dalam pandangannya, ketidakadilan ini bukan hanya soal Irma, tetapi mencerminkan masalah yang lebih besar dalam industri film nasional.
Arie Kriting: Suara untuk Irma Rihi
Arie Kriting menegaskan bahwa keputusannya untuk mendukung Irma Rihi muncul dari rasa solidaritas sebagai sesama seniman yang berasal dari Indonesia Timur. Dalam sebuah unggahan di akun Threads-nya pada 14 Oktober 2026, ia menyatakan bahwa Irma telah dua kali diabaikan dalam ajang bergengsi ini. “Kenapa saya berbicara? Karena Irma Rihi telah dua kali dipinggirkan oleh FFI,” ungkap Arie. Ia merasa perlu untuk mewakili suara yang jarang terdengar ini, mengingat Irma tidak memiliki platform yang sama untuk menyuarakan kekecewaannya.
Menyoroti Kemenangan “Women from Rote Island”
Arie Kriting juga menyoroti ironi yang terjadi pada kemenangan film “Women from Rote Island” di FFI 2023. Meskipun film tersebut berhasil meraih beberapa penghargaan, termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, Irma Rihi yang berperan sebagai pemeran utama justru tidak mendapatkan nominasi apa pun. “Bagaimana mungkin orang yang menyampaikan kisah dan emosi tidak diakui?” tanya Arie, mengekspresikan rasa frustrasinya terhadap situasi ini.
Menurutnya, pencapaian film tersebut tidak terlepas dari kontribusi luar biasa Irma Rihi. Dia merasa ada yang tidak beres ketika isu perempuan dari Timur diangkat, tetapi kehadiran dan suara mereka justru diabaikan. “Terlihat absurd ketika isu yang berangkat dari fakta bahwa suara perempuan Timur tidak dianggap, lalu di saat yang sama, kehadiran mereka juga dipinggirkan,” tulis Arie dengan penuh keprihatinan.
Perbandingan dengan Aktris Ibu Kota
Dalam pandangannya, Arie Kriting juga membandingkan situasi Irma dengan aktris dari Ibu Kota yang mungkin akan mendapatkan lebih banyak perhatian dan penghargaan jika mereka berperan dalam film tersebut. “Saya sempat berpikir, bagaimana jika aktris dari Ibu Kota yang membintangi film ini? Mungkin dia akan mendapatkan pujian dan penghargaan yang melimpah,” tulis Arie, menggambarkan ketidakadilan yang dirasakan oleh banyak seniman daerah.
Irma Rihi Kembali Dikesampingkan di “Na Willa”
Kekecewaan Arie Kriting semakin mendalam ketika Irma Rihi kembali tidak mendapatkan pengakuan di film “Na Willa”. Meskipun penampilannya tetap konsisten dan menonjol, juri FFI justru tidak memasukkannya dalam nominasi. “Saya rasa penampilannya luar biasa, tetapi juri FFI tidak melihatnya demikian. Irma kembali dikesampingkan,” ungkapnya. Ironisnya, Luisa Adreena, yang berperan sebagai Na Willa, berhasil masuk nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik.
Peran Irma yang Terlupakan
Arie Kriting merasa bahwa peran Irma Rihi sebagai karakter Mak memiliki dampak yang signifikan terhadap film tersebut, meskipun tidak diakui oleh juri. “Luisa berakting sangat baik dan mendapatkan penghargaan, tapi saya yakin ada kontribusi dari karakter Mak yang dimainkan oleh Irma,” tulisnya. Hal ini menambah kompleksitas pada situasi penghargaan, di mana kontribusi nyata sering kali tidak mendapatkan pengakuan yang seharusnya.
Standar Penilaian Juri FFI yang Dipertanyakan
Arie Kriting tidak hanya mengungkapkan dukungannya kepada Irma Rihi, tetapi juga mempertanyakan standar dan kriteria penilaian yang diterapkan oleh juri FFI. “Apa yang menjadi ukuran penilaian yang membuat kehadiran Irma Rihi di film-film ini tidak dianggap cukup?” tanyanya. Pertanyaan ini mencerminkan kebingungan dan kekecewaan yang dirasakan oleh banyak kalangan dalam industri film, terutama bagi mereka yang berasal dari luar pusat industri.
Refleksi Terhadap Kualitas dan Apresiasi
Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana kualitas akting dinilai dan diapresiasi dalam dunia perfilman Indonesia. Apakah penilaian ini adil dan objektif, ataukah ada bias yang mempengaruhi keputusan juri? “Kita perlu mengevaluasi apakah ada keadilan dalam proses penilaian ini,” tegas Arie, menegaskan pentingnya transparansi dalam dunia penghargaan film.
Mendukung Perempuan dari Timur
Dukungan Arie Kriting untuk Irma Rihi juga mencerminkan dorongan yang lebih besar untuk memberikan ruang bagi perempuan dari wilayah Timur dalam industri film. Menurutnya, penting untuk mengangkat suara dan cerita dari daerah yang sering kali terabaikan. “Kita harus berjuang untuk memastikan bahwa suara perempuan dari Timur didengar dan dihargai,” ungkapnya, menekankan perlunya perubahan dalam cara pandang terhadap seniman dari daerah.
Kesadaran akan Kekuatan Narasi
Arie juga menyoroti bahwa narasi yang kuat bisa memberikan dampak yang besar dalam memperjuangkan isu-isu sosial. “Kita harus menyadari bahwa setiap cerita memiliki kekuatan untuk mengubah pandangan dan persepsi masyarakat,” katanya. Dengan demikian, penting bagi film-film yang mengangkat cerita dari daerah untuk mendapatkan apresiasi yang layak.
Langkah ke Depan untuk Irma Rihi dan Seniman Lainnya
Ke depan, Arie Kriting berharap agar Irma Rihi dan seniman lainnya tetap berjuang meskipun menghadapi tantangan. “Meskipun mengalami kekecewaan, saya yakin talenta Irma tidak akan sirna. Dia harus terus berkarya dan menunjukkan kemampuannya,” ungkapnya. Pesan ini tidak hanya untuk Irma, tetapi juga untuk semua seniman yang berjuang di industri yang kadang tidak adil.
Pentingnya Dukungan Komunitas
Solidaritas di antara sesama seniman sangat penting, terutama dalam menghadapi situasi yang tidak adil. “Kita harus saling mendukung, mengangkat satu sama lain, dan berbagi ruang untuk mengekspresikan diri,” kata Arie. Dukungan kolektif ini bisa menjadi kunci untuk menciptakan perubahan yang diinginkan dalam industri film.
Kesimpulan: Mendorong Perubahan di FFI
Dengan munculnya suara-suara seperti Arie Kriting, ada harapan untuk perubahan yang lebih baik dalam Festival Film Indonesia. Kekecewaan atas absennya Irma Rihi dari nominasi FFI 2026 bukan hanya sebuah insiden, tetapi sebuah panggilan untuk memperbaiki sistem yang ada. “Kita perlu memperjuangkan keadilan dan pengakuan untuk semua seniman, terutama bagi mereka yang berasal dari daerah yang sering terabaikan,” tutup Arie. Melalui dukungan dan kesadaran yang lebih besar, diharapkan ke depan akan ada lebih banyak kesempatan bagi seniman dari seluruh Indonesia untuk bersinar.
➡️ Baca Juga: Guru PPPK Menjadi PNS di Madrasah: Penjelasan Resmi dari Kementerian Agama
➡️ Baca Juga: BPJS Kesehatan Tingkatkan Standar Customer Excellence Melalui Inisiatif CX126




