Menekraf Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif untuk Menekan Pengangguran di Kota Malang

Ekonomi kreatif di Kota Malang terus menunjukkan potensi yang menjanjikan, terutama dalam menghadapi tantangan pengangguran. Dalam konteks ini, Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menekankan pentingnya peran komunitas dalam membangun ekosistem yang kuat untuk ekonomi kreatif. Kegiatan seperti festival kreatif menjadi salah satu sarana untuk menghubungkan ide-ide, talenta, dan peluang investasi yang ada.
Pentingnya Festival Kreatif dalam Ekosistem Ekonomi Kreatif
Festival kreatif, seperti Festival Mbois 11 yang mengusung tema “Malang Menyala”, merupakan ajang yang sangat strategis. Menurut Menekraf, festival semacam ini berfungsi sebagai wadah untuk mempertemukan berbagai pihak yang terlibat dalam ekonomi kreatif. “Festival seperti Mbois menjadi ruang bertemunya ide, talenta, pasar, dan investasi, agar karya tidak berhenti setelah festival,” ujarnya. Dengan begitu, hasil dari festival tersebut dapat terus dikembangkan dan dilindungi, serta akhirnya dikomersialisasikan.
Malang sebagai Kota Kreatif yang Berkelanjutan
Teuku Riefky Harsya juga menegaskan bahwa pengakuan Malang sebagai Kota Kreatif UNESCO di bidang Media Arts bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah awal yang baru. Predikat ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat talenta dan ekosistem kreatif di kota ini secara berkelanjutan. “Malang perlu terus menjaga regenerasi talentanya,” tegasnya. Menurutnya, Malang Creative Center (MCC) harus berfungsi sebagai living ecosystem yang mampu menciptakan kreativitas, kewirausahaan, dan lapangan kerja yang akan memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat.
Peran Festival Mbois 11 dalam Membangun Jejaring
Festival Mbois 11 juga berkontribusi dalam memperkuat jejaring antar kota kreatif melalui inisiatif Creative Impact Platform. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan menuju World Conference on Creative Economy (WCCE). Dengan melibatkan berbagai komunitas dan pelaku kreatif, festival ini berpotensi untuk menciptakan sinergi yang menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.
Kolaborasi antara Pemerintah dan Komunitas
Pengembangan ekonomi kreatif di Kota Malang tidak terlepas dari dukungan pemerintah. Hal ini sejalan dengan Perpres Nomor 37 Tahun 2026 yang mengatur Rindekraf 2026–2045. Riefky menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam berbagai aspek, seperti riset, pendidikan, pembiayaan, infrastruktur, pemasaran, dan insentif. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat potensi ekonomi kreatif daerah.
- Pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan
- Fasilitasi akses pasar bagi pelaku ekonomi kreatif
- Konsultasi dan pendanaan untuk startup kreatif
- Pembentukan jaringan antara pelaku industri
- Promosi produk lokal melalui berbagai platform
Mempromosikan Kekayaan Intelektual Lokal
Dalam kunjungannya ke Festival Mbois 11, Menekraf juga menekankan pentingnya konservasi kekayaan intelektual. Hal ini bertujuan untuk memperkuat potensi ekonomi kreatif di daerah tersebut. Selama festival, Riefky meninjau beberapa agenda penting, termasuk Pameran Muraloka yang menampilkan informasi mengenai 100 Tahun Gajayana serta lima potensi kekayaan intelektual lokal lainnya. Selain itu, ia juga mengunjungi Media Art Exhibition dan area sportainment yang menonjolkan inovasi di bidang ekonomi kreatif.
Sinergi antara Talenta dan Teknologi
Dengan adanya kolaborasi yang solid antara akademisi, pemerintah daerah, komunitas, dan media, Kota Malang dapat mengoptimalkan potensi kreativitasnya. “Kota Malang memiliki talenta dan ekosistem kreatif yang luar biasa,” kata Riefky. Ketika semua potensi ini dipadukan dengan inovasi, kreativitas, dan teknologi, nilai tambah yang dihasilkan akan sangat signifikan.
Dukungan Pemerintah untuk Festival Kreatif
Ketua Pelaksana Festival Mbois 11, Gedeon Soerja, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kehadiran Menekraf, yang ia anggap sebagai bentuk dukungan pemerintah untuk pengembangan ekosistem kreatif di Kota Malang. “Kehadiran Pak Menekraf di festival ini merupakan kebanggaan bagi kami,” ujarnya. Ia berharap Festival Mbois 11 dapat menjadi wadah untuk mengintegrasikan berbagai komunitas dan pemangku kepentingan guna memperkuat posisi Malang sebagai Living Media City.
Target dan Harapan Festival Mbois 11
Festival Mbois 11, yang diinisiasi oleh Malang Creative Fusion, berlangsung dari 21 hingga 23 Agustus 2026. Dengan target lebih dari 20 ribu pengunjung dan melibatkan sekitar 500 pelaku kreatif, festival ini diharapkan dapat menarik perhatian masyarakat luas. Selain itu, penyelenggara juga menargetkan 300 business matching dan potensi transaksi hingga Rp150 miliar. Festival ini menghadirkan lima klaster utama dalam ekonomi kreatif yang akan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal.
Dengan semua inisiatif ini, diharapkan ekonomi kreatif di Kota Malang dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif dalam menekan angka pengangguran. Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri, masa depan ekonomi kreatif di Malang tampak cerah dan penuh peluang.
➡️ Baca Juga: Wapres Sara Duterte Menghadapi Ancaman Penggulingan dalam Situasi Politik Terkini
➡️ Baca Juga: Promo Mudik Lebaran 2026 di Alfamart: Beli 2, Dapatkan 1 Minuman Favorit Gratis untuk Perjalanan Jauh



