Wagub Rano Karno Dorong Sekolah di Jakarta Laksanakan Simulasi Bencana Secara Rutin

Jakarta – Dalam upaya meningkatkan keselamatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana di lingkungan pendidikan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengimbau kepada seluruh sekolah untuk rutin melaksanakan simulasi evakuasi. Inisiatif ini sangat penting, terutama bagi sekolah-sekolah yang memiliki bangunan bertingkat, untuk memastikan bahwa fasilitas pendidikan tidak hanya nyaman dan layak, tetapi juga aman bagi siswa dan tenaga pendidik.
Pentingnya Simulasi Bencana di Sekolah
Rano menyampaikan arahan ini saat melakukan peninjauan terhadap rehabilitasi dan pembangunan tiga sekolah di wilayah Jakarta Selatan pada hari Jumat, 16 Oktober. Sekolah-sekolah tersebut terdiri dari SDN Lebak Bulus 04, SMPN 299 Jakarta, dan SDN Cilandak Barat 08, yang kini telah digunakan sejak awal tahun ajaran 2026–2027. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan sekolah dalam menghadapi potensi bencana yang mungkin terjadi.
Dalam konteks ini, Rano menekankan pentingnya kesiapan sekolah untuk menghadapi risiko bencana, termasuk gempa bumi. Mengingat banyak gedung sekolah yang memiliki struktur lima hingga enam lantai, prosedur mitigasi dan evakuasi harus menjadi perhatian utama. Semua pihak yang berada di lingkungan sekolah perlu memahami langkah-langkah penyelamatan yang harus diambil saat terjadi keadaan darurat.
Prosedur Evakuasi yang Efektif
“Untuk keselamatan semua, khususnya dalam menghadapi kemungkinan bencana gempa bumi, sekolah harus benar-benar siap dan melakukan latihan simulasi evakuasi secara rutin. Dengan adanya gedung yang tinggi, tantangan dalam mitigasi menjadi lebih kompleks, sehingga saya memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan untuk terus melatih prosedur evakuasi secara berkala. Prinsipnya adalah sedia payung sebelum hujan,” ungkap Rano.
Pada kesempatan tersebut, Rano juga memastikan bahwa fasilitas sekolah dapat berfungsi dengan baik dan mendukung peningkatan kualitas pembelajaran. Sekolah-sekolah yang dikunjungi tersebut sebelumnya memiliki bangunan yang cukup tua, seperti SDN Lebak Bulus 04 yang sudah berdiri sejak 1973, dan SDN Cilandak Barat 08 yang dibangun pada tahun 1976, yang mengalami kerusakan parah sebelum direhabilitasi.
Pembangunan dan Rehabilitasi Sekolah
Sementara itu, pembangunan SMPN 299 Jakarta dilakukan untuk meningkatkan akses pendidikan tingkat SMP negeri di kawasan Lebak Bulus. Dengan kehadiran gedung baru dan hasil rehabilitasi, diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat setempat.
Pembangunan SDN Lebak Bulus 04 dan SMPN 299 Jakarta memiliki nilai kontrak sebesar Rp70,49 miliar, dengan luas lahan mencapai 4.160 meter persegi dan luas bangunan yang mencapai 9.724 meter persegi. Sementara rehabilitasi SDN Cilandak Barat 08 menghabiskan biaya sebesar Rp31,42 miliar, dengan luas lahan 2.200 meter persegi dan luas bangunan 4.529 meter persegi.
Fasilitas Penunjang yang Modern
Ketiga gedung sekolah tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang yang penting, antara lain:
- Akses ramah disabilitas
- Lift untuk memudahkan mobilitas
- Sistem proteksi kebakaran yang canggih
- Sarana olahraga yang memadai
- Ruang terbuka hijau untuk kegiatan luar ruangan
Bangunan juga dirancang dengan memperhatikan efisiensi energi, termasuk pemanfaatan panel surya, sirkulasi udara yang baik, dan pencahayaan alami yang cukup. Hal ini dilakukan agar lingkungan belajar menjadi lebih nyaman dan mendukung proses pembelajaran yang efektif.
Manfaat Langsung bagi Siswa dan Guru
“Kami berharap bukan hanya sekadar memiliki gedung baru, tetapi juga manfaat langsung bagi siswa dan guru. Ruang belajar harus lebih nyaman, aman, inklusif, serta dapat menambah daya tampung dan memperluas akses pendidikan,” tambah Rano.
Selain fokus pada kesiapsiagaan bencana, Rano mengingatkan tentang pentingnya pemeliharaan rutin untuk memastikan seluruh fasilitas sekolah tetap berfungsi dengan optimal dalam jangka panjang. Ia meminta Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk mengawasi masa pemeliharaan dan memastikan kondisi sarana serta prasarana sekolah terus terjaga dengan baik.
Pemeliharaan Fasilitas yang Berkelanjutan
“Membangun gedung itu relatif mudah dan bisa diselesaikan dalam waktu satu tahun. Namun, tantangan terbesar adalah merawat seluruh fasilitas tersebut setiap tahunnya. Saya meminta Dinas Pendidikan untuk terus mengawasi masa pemeliharaan agar sarana dan prasarana yang ada dapat dirawat dengan baik dan bertahan jauh lebih lama,” tegasnya.
Pemetaan Kebutuhan Rehabilitasi Sekolah
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga terus melakukan pemetaan terhadap kebutuhan rehabilitasi sekolah berdasarkan kondisi bangunan dan tingkat urgensi penanganan. Upaya ini dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan, kenyamanan, inklusivitas, serta kebutuhan belajar siswa di seluruh Jakarta.
Dengan adanya langkah-langkah proaktif ini, diharapkan sekolah-sekolah di Jakarta dapat siap menghadapi berbagai risiko bencana, memberikan lingkungan yang aman, dan mendukung kebutuhan pendidikan yang terus berkembang di era modern ini. Melalui simulasi bencana yang rutin, diharapkan seluruh warga sekolah dapat lebih siap dan tanggap dalam menghadapi situasi darurat.
➡️ Baca Juga: Pemerintah Kota Bandung Ciptakan Kesempatan Kerja untuk 57 Mantan Karyawan Kebun Binatang Bandung
➡️ Baca Juga: John Herdman Fokus Atasi Tantangan Permainan Sayap Tim Bulgaria di Kompetisi Mendatang




