Pameran Trinetra Memperkuat Hubungan Antara Museum dan Generasi Muda

Pameran Trinetra, yang berlangsung dari 13 hingga 17 Oktober 2026, merupakan langkah inovatif untuk mengubah persepsi masyarakat tentang museum. Dalam konteks ini, museum tidak lagi dilihat hanya sebagai tempat penyimpanan artefak bersejarah, melainkan juga berfungsi sebagai pusat pembelajaran yang aktif dan relevan untuk generasi muda. Hal ini sejalan dengan visi untuk menghadirkan museum sebagai ruang yang mendekatkan masyarakat dengan sejarah dan budaya melalui pengalaman yang interaktif dan mendidik.
Tujuan Pameran dan Peran Museum
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengungkapkan bahwa pameran ini diadakan tepat sehari setelah Hari Museum Indonesia. Tujuannya tidak lain adalah untuk memperkuat posisi museum sebagai tempat edukasi serta pelestarian sejarah dan budaya bangsa.
“Dengan diadakannya pameran ini, kami berharap museum dapat berperan lebih aktif dalam mendidik masyarakat dan menjaga ingatan kolektif melalui penyampaian pengetahuan yang berharga,” ungkap Yetti di Yogyakarta, Selasa.
Ruang Pameran yang Interaktif
Pameran Trinetra diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Forum Komunikasi Museum Kota (FKMK) di Selasar Museum Dr Yap Prawirohusodo. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan koleksi museum, tetapi juga menggabungkan berbagai aspek sejarah, gagasan, dan kreativitas dalam satu ruang pameran yang menarik.
Dalam konteks ini, pameran berfungsi sebagai jembatan antara museum dan masyarakat, memungkinkan pengunjung untuk lebih mengenal koleksi yang ada serta sejarah yang melatarbelakanginya.
Inisiatif dari Mahasiswa
Pameran ini juga merupakan bagian dari proyek akhir Museum Youth Internship Program (MYIP) 2026 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Selama dua bulan, mahasiswa dari beragam jurusan berkesempatan untuk magang di beberapa museum, termasuk Museum Dr Yap Prawirohusodo dan Museum Bahari.
Keterlibatan mahasiswa ini diharapkan tidak hanya sebatas pengenalan terhadap koleksi dan sejarah, tetapi juga mendorong mereka untuk berkontribusi dengan gagasan dan karya yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Peran Aktif Generasi Muda
“Program magang seharusnya tidak hanya menjadi proses belajar, tetapi juga menghasilkan karya dan ide yang dapat memberikan manfaat bagi publik. Melalui pameran ini, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal sejarah, tetapi juga berperan aktif dalam merawat dan menyampaikannya kepada masyarakat,” jelas Yetti.
Filosofi di Balik Tema Pameran
Tema pameran, “Trinetra: Lensa Mata, Mata Hati, Mata Angin,” diambil dari filosofi tiga mata Dewa Siwa yang mengajak kita untuk melihat dunia dari berbagai perspektif. Konsep ini diwujudkan dalam tiga zona pameran yang masing-masing memiliki tema yang berbeda.
Pengunjung dapat menelusuri perjalanan ilmu dan praktik medis, memahami pentingnya pendidikan dan budi pekerti dalam membebaskan pikiran, serta menyadari perubahan zaman dan pentingnya menjaga kedaulatan bangsa. Ketiga bagian ini dirancang untuk menghubungkan pemahaman masa lalu, pengetahuan akan kondisi saat ini, dan pandangan mengenai masa depan bangsa Indonesia.
Program Publik yang Menarik
Selain koleksi yang ditampilkan, pameran ini juga menyediakan berbagai program publik yang dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih interaktif bagi pengunjung. Beberapa kegiatan yang disiapkan antara lain:
- Tur kuratorial untuk memahami koleksi secara mendalam
- Program “Look n Find Me” yang menyenangkan
- Pengenalan jamu melalui “Njamu Jam Telu”
- Kegiatan Lesehan Sejarah yang informatif
Kegiatan-kegiatan ini bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif pengunjung, sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat dalam pengalaman edukasi yang menyenangkan.
Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Pendekatan kolaboratif dalam pameran ini juga berfungsi sebagai cara untuk mempertemukan pengelola museum dengan berbagai pihak, termasuk mahasiswa, komunitas, akademisi, dan masyarakat umum. Melalui kolaborasi ini, diharapkan dapat memperluas jangkauan publik museum serta membuka ruang untuk pertukaran pengetahuan dan gagasan yang konstruktif.
“Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan publik museum sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan gagasan di antara pengelola museum, mahasiswa, komunitas, akademisi, dan masyarakat,” tambah Yetti.
Pameran Trinetra tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan koleksi museum, tetapi juga merupakan langkah progresif dalam menciptakan kesadaran akan pentingnya pelestarian sejarah dan budaya di kalangan generasi muda. Dengan melibatkan mereka secara aktif dalam proses pembelajaran, diharapkan museum dapat menjadi ruang yang lebih inklusif dan relevan bagi semua kalangan masyarakat.
➡️ Baca Juga: Dampak Perang di Timur Tengah, Pemerintah Cari Sumber Alternatif Bahan Baku Plastik
➡️ Baca Juga: KJRI New York Kolaborasi dengan Pola Raya untuk Memperluas Pasar Global Arsitek RI




