Dukungan CAF untuk Infantino Tidak Menjamin Kemenangan di Afrika pada Pemilihan FIFA

CAPE TOWN — Dukungan yang diberikan oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) kepada Gianni Infantino bukanlah jaminan bahwa semua 54 asosiasi sepak bola di Afrika akan memberikan suara untuk Presiden FIFA tersebut dalam pemilihan yang akan berlangsung tahun depan. Meskipun dukungan resmi ini menunjukkan solidaritas, sejarah mencatat bahwa tindakan anggota CAF sering kali berbeda dari arahan organisasi induknya.
Tantangan yang Dihadapi Infantino
Gianni Infantino tengah berada dalam posisi yang sulit, menghadapi berbagai tekanan akibat rencana kontroversialnya yang ingin mengalihkan sebagian hak komersial dari Piala Dunia. Rencana tersebut mendapat penolakan dari beberapa konfederasi, yang mengakibatkan ketidakpastian bagi kepemimpinannya. Di tengah ketegangan ini, CAF secara resmi menegaskan dukungannya terhadap Infantino, namun hal ini tidak selalu menjamin persatuan suara dari anggota-anggotanya.
Sejarah Dukungan CAF
Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa dukungan resmi dari CAF tidak selalu diikuti oleh suara dari anggotanya dalam pemilihan presiden FIFA. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, anggota CAF menunjukkan bahwa mereka tidak segan-segan untuk mengabaikan arahan yang diberikan oleh CAF.
Pentingnya Dukungan Afrika
Selama hampir satu dekade kepemimpinannya di FIFA, Infantino sangat mengandalkan dukungan dari benua Afrika. Dia telah berupaya untuk meningkatkan dana hibah FIFA bagi asosiasi sepak bola di kawasan ini secara signifikan. Upaya ini menunjukkan komitmennya untuk memperbaiki kondisi sepak bola di Afrika, namun hal ini tidak menjamin bahwa 54 anggota CAF akan memberikan suara secara seragam untuknya saat pemilihan berlangsung pada 17 Maret di Kongres FIFA yang akan diadakan di Maroko.
Peran Penting Afrika dalam Pemilihan FIFA
Dengan 54 suara dari total 211 anggota FIFA, Afrika berperan sebagai salah satu kawasan yang sangat berpengaruh dalam pemilihan presiden FIFA. Meskipun demikian, rekam jejak menunjukkan bahwa seringkali asosiasi sepak bola di benua ini tidak mengikuti arahan dari CAF.
- Pada pemilihan presiden FIFA 1998, CAF berkoalisi dengan UEFA untuk mendukung Lennart Johansson.
- Namun, mayoritas asosiasi Afrika justru memilih Sepp Blatter, yang pada akhirnya memenangkan pemilihan tersebut.
- Empat tahun kemudian, saat Issa Hayatou, Presiden CAF waktu itu, menantang Blatter, banyak negara Afrika tetap memberikan suara untuk Blatter.
- Pada pemilihan 2016, meskipun CAF mendukung Sheikh Salman Bin Ibrahim Al Khalifa, banyak asosiasi Afrika malah mendukung Infantino.
- Situasi serupa terjadi pada pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2026, di mana CAF mendukung Maroko, tetapi 11 negara Afrika memilih tawaran bersama dari Kanada, Meksiko, dan AS.
Faktor yang Mempengaruhi Suara Anggota CAF
Perbedaan pendapat antara CAF dan beberapa anggota mengenai isu-isu politik dan sosial sering kali menjadi faktor yang menentukan. Misalnya, terkait pencalonan Maroko sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026, perbedaan pendapat yang tajam mengenai status Sahara Barat memicu ketegangan. Maroko menganggap wilayah tersebut sebagai bagian dari negara mereka, sementara Front Polisario memperjuangkan kemerdekaan untuk Republik Sahrawi, yang didukung oleh sejumlah negara Afrika.
Dalam konteks ini, meskipun dukungan Afrika terhadap Infantino saat ini tampak solid, situasi ini sangat dinamis dan dapat berubah. Jika ketidakpuasan terhadap kepemimpinannya berkembang, bisa jadi asosiasi anggota CAF akan mengambil langkah yang berbeda saat pemilihan berlangsung. Sejarah mencatat bahwa loyalitas politik dalam sepak bola sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor di luar sepak bola itu sendiri, termasuk hubungan diplomatik dan kepentingan nasional.
Kesimpulan yang Dapat Diambil
Dengan semua ini, dukungan CAF kepada Infantino tidak bisa dianggap sebagai jaminan mutlak. Meskipun secara resmi CAF telah menyatakan dukungannya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa setiap asosiasi memiliki hak untuk memilih sesuai dengan kepentingan dan pertimbangannya masing-masing. Ini adalah gambaran kompleks dari dinamika politik yang ada dalam dunia sepak bola, di mana dukungan dan loyalitas dapat berubah dengan cepat.
Infantino harus terus berusaha untuk membangun hubungan yang lebih kuat dan saling menguntungkan dengan semua asosiasi sepak bola di Afrika jika dia ingin memastikan dukungan yang berkelanjutan. Dalam dunia yang bergejolak ini, satu hal yang pasti: pemilihan presiden FIFA mendatang akan menjadi sorotan utama, dan semua mata akan tertuju pada bagaimana suara Afrika akan dibagikan.
➡️ Baca Juga: Khvicha Kvaratskhelia: Bintang PSG yang Meningkatkan Popularitas Sepak Bola Global
➡️ Baca Juga: Alternatif Tanpa Dean James: Timnas Indonesia di FIFA Series 2026 dan Peluang Dony Tri Pamungkas




