El Nino Mengancam Produksi Pangan, Perkuat Pengelolaan Air dan Perlindungan Petani

El Nino yang kini melanda Indonesia menghadirkan tantangan serius bagi sektor pertanian, terutama dalam hal produksi pangan. Dengan pola cuaca yang tidak menentu, petani di berbagai daerah berisiko menghadapi penurunan hasil panen. Oleh karena itu, sangat penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk segera mengambil langkah-langkah strategis dalam pengelolaan sumber daya air dan perlindungan para petani. Fokus utama harus diarahkan pada mitigasi dampak El Nino untuk memastikan ketahanan pangan nasional.
Dampak El Nino Terhadap Produksi Pangan
Menurut Eliza Mardian, peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, dampak El Nino terhadap produksi pangan dalam beberapa bulan mendatang harus ditangani dengan pendekatan yang tepat. Ia menekankan pentingnya pengelolaan air yang efektif dan perlindungan bagi petani, khususnya di daerah dengan ketersediaan air yang terbatas.
Eliza menjelaskan bahwa meskipun El Nino meningkatkan risiko terhadap produksi padi, hal tersebut tidak serta-merta berarti akan terjadi krisis pangan. Namun, kondisi kemarau yang berkepanjangan dan kering dapat mengancam luas lahan tanam serta produktivitas, terutama di daerah yang bergantung pada hujan dan memiliki irigasi yang tidak memadai.
Wilayah yang Terkena Dampak
Beberapa daerah yang perlu mendapatkan perhatian khusus meliputi:
- Lamongan, Bojonegoro, dan Gresik di Jawa Timur
- Wilayah tadah hujan di Jawa Tengah
- Bagian utara Jawa Barat
- Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT)
- Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, serta sebagian Sulawesi Selatan
Pulau Jawa menjadi kunci dalam produksi beras nasional, sehingga gangguan di wilayah ini dapat berdampak luas terhadap pasokan pangan di seluruh negeri.
Status El Nino dan Prediksi Musim Kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa El Nino saat ini berada dalam kategori kuat. Diperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus 2026, yang diprediksi akan mencakup 369 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,84 persen dari luas daratan Indonesia. Ini menunjukkan potensi masalah yang lebih besar yang dapat dialami oleh para petani dan produksi pangan secara keseluruhan.
Solusi Pengelolaan Air
Dalam menghadapi tantangan tersebut, pompanisasi bisa menjadi salah satu opsi. Namun, Eliza menekankan bahwa solusi ini hanya efektif jika masih ada sumber air permukaan yang bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian.
“Pompanisasi hanya akan berhasil di lokasi-lokasi yang memiliki cadangan air permukaan,” jelasnya.
Bagi daerah yang mengalami kekurangan sumber air, pemerintah dan petani perlu melakukan beberapa penyesuaian. Ini termasuk penyesuaian kalender tanam, pemilihan varietas tanaman yang tahan kekeringan atau berumur genjah, serta diversifikasi tanaman dengan memilih tanaman yang lebih hemat air seperti jagung dan kacang-kacangan.
Inisiatif Kementerian Pertanian
Pada tahun 2026, Kementerian Pertanian (Kementan) berencana menyediakan 56 ribu unit pompa air sebagai langkah mitigasi kekeringan di seluruh Indonesia. Selain itu, perlindungan bagi petani juga menjadi prioritas dengan adanya program asuransi pertanian serta bantuan untuk benih dan pupuk.
Kementan juga mengimplementasikan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang memberikan nilai pertanggungan hingga Rp6 juta per hektare untuk lahan yang mengalami gagal panen akibat bencana.
Rekomendasi Jangka Pendek
Eliza merekomendasikan beberapa langkah untuk jangka pendek yang harus diambil, antara lain:
- Optimalisasi penggunaan waduk
- Penerapan pompanisasi sesuai dengan ketersediaan air
- Rehabilitasi irigasi yang mengalami kerusakan
- Modifikasi cuaca di lokasi-lokasi strategis
- Penyesuaian kalender tanam berdasarkan prakiraan yang dikeluarkan oleh BMKG
Langkah-langkah ini bertujuan untuk mencegah penurunan luas lahan tanam dan lonjakan harga yang merugikan konsumen.
Mitigasi Berbasis Risiko Jangka Panjang
Dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, Eliza mendorong perluasan cadangan pangan, diversifikasi sumber air, serta penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan. Selain itu, asuransi berbasis indeks cuaca dan pemantauan kondisi pertanian dengan teknologi satelit juga perlu diperkuat.
Indonesia harus mempercepat modernisasi sistem irigasi dan mengadopsi praktik pertanian cerdas iklim. Hal ini meliputi penguatan diversifikasi pangan lokal, perbaikan tata kelola air, dan pembangunan sistem peringatan dini yang terintegrasi untuk meningkatkan respons terhadap perubahan iklim.
Dengan langkah-langkah strategis ini, diharapkan Indonesia dapat menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh El Nino, menjaga ketahanan pangan, dan memastikan kesejahteraan petani di seluruh nusantara. Sebagai negara agraris, keberlangsungan sektor pertanian sangat bergantung pada pengelolaan yang cermat dan dukungan yang berkelanjutan dari pemerintah serta masyarakat.
➡️ Baca Juga: Film Aku Harus Mati: Mengungkap Tema dan Pesan Utama yang Tersirat
➡️ Baca Juga: TNI Kirim 425 Prajurit Yonif 133 untuk Amanat Objek Vital di Papua




