pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

slot depo 10k slot depo 10k
Rona

Mengapa Berat Badan Sulit Turun Meski Sudah Diet? Simak Penjelasan Medisnya

Menurunkan berat badan sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang. Meskipun telah mencoba berbagai cara, seperti mengurangi porsi makan, menghindari makanan manis, dan meningkatkan aktivitas fisik, tidak sedikit yang masih mengalami kesulitan dalam menurunkan berat badan. Situasi ini kerap menimbulkan rasa frustasi, terutama ketika usaha yang dilakukan tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

Kompleksitas Masalah Berat Badan

Sering kali, masalah berat badan yang tidak kunjung turun dianggap sebagai akibat dari kurangnya disiplin dalam menjalani program diet. Namun, jika kita melihatnya dari sudut pandang medis, penyebabnya jauh lebih rumit. Saat ini, obesitas diakui sebagai suatu kondisi kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk genetik, neurobiologi, perilaku makan, keadaan psikologis, dan lingkungan sekitar.

Menurut dr. Erwin Christianto, Sp.GK, M.Gizi, yang menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), pandangan bahwa obesitas hanya disebabkan oleh konsumsi makanan berlebihan sudah ketinggalan zaman. “Dulu kita hanya mengaitkan obesitas dengan makan berlebihan, tetapi sekarang kita menyadari bahwa penyebabnya jauh lebih kompleks,” ungkapnya.

Obesitas merupakan penyakit multifaktorial, yang berarti ada banyak mekanisme yang saling berinteraksi dalam proses terjadinya kondisi ini. Faktor-faktor yang terlibat antara lain adalah:

  • Genetik
  • Perubahan hormonal
  • Fungsi otak yang berperan dalam pengendalian rasa lapar dan kenyang
  • Kondisi psikologis seperti stres dan kurang tidur
  • Efek samping dari obat-obatan tertentu

Karena penyebab obesitas dapat bervariasi dari satu individu ke individu lainnya, perjalanan dalam menurunkan berat badan pun sering kali berbeda bagi setiap orang. Hal ini menjelaskan mengapa pendekatan yang berhasil untuk satu orang belum tentu efektif untuk orang lain.

Penyebab Berat Badan Sulit Turun

Dr. Erwin menjelaskan bahwa diet seharusnya dipahami sebagai pengaturan pola makan yang tidak selalu berarti mengurangi asupan makanan secara drastis. Ketika seseorang telah berusaha mengurangi porsi makanan namun tidak melihat penurunan berat badan, penting untuk menyelidiki lebih dalam untuk menemukan penyebabnya.

“Jika seseorang sudah berusaha mengurangi makan tetapi berat badannya tetap tidak berubah, kita perlu mencari tahu penyebabnya,” jelasnya. Salah satu kemungkinan adalah adanya konsumsi kalori yang tidak disadari, misalnya akibat kebiasaan ngemil di antara waktu makan. Faktor lain yang dapat berkontribusi adalah kondisi metabolisme dan berbagai mekanisme biologis yang mempengaruhi cara tubuh mengelola dan menyimpan energi.

Oleh karena itu, berat badan yang stagnan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang kurang berusaha. Penilaian yang menyeluruh diperlukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek, seperti pola makan, tingkat aktivitas fisik, kondisi metabolik, kualitas tidur, tingkat stres, penggunaan obat-obatan, dan berbagai faktor lainnya yang relevan.

Hati-hati dengan Tren Diet

Dr. Erwin juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan mengikuti tren diet yang banyak beredar di media sosial. Program diet yang berhasil untuk satu orang belum tentu efektif bagi orang lain, mengingat setiap individu memiliki kondisi tubuh dan faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan yang berbeda.

Obesitas dan Risiko Penyakit Kronis

Masalah obesitas di Indonesia semakin menjadi perhatian serius dalam bidang kesehatan masyarakat. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar satu dari empat orang dewasa di tanah air mengalami obesitas. Obesitas bukan hanya sekedar masalah ukuran atau berat tubuh, tetapi juga berhubungan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis, seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, serta beberapa jenis kanker.

Salah satu metode yang umum digunakan untuk melakukan skrining awal adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Namun, penting untuk dicatat bahwa BMI tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan untuk menentukan kondisi kesehatan seseorang, karena tidak menggambarkan komposisi tubuh atau distribusi lemak dengan akurat. Oleh karena itu, hasil pengukuran BMI sebaiknya dipahami sebagai indikator awal, bukan sebagai diagnosis definitif.

Perubahan berat badan dan lingkar perut yang terjadi secara terus-menerus juga bisa menjadi alasan untuk melakukan evaluasi kesehatan lebih lanjut. Dr. Erwin menyarankan agar masyarakat memperhatikan perubahan tersebut, terutama jika disertai dengan gejala yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

➡️ Baca Juga: Revitalisasi Museum Majapahit, Fadli Zon Harapkan Etalase Peradaban Nusantara yang Berkualitas

➡️ Baca Juga: Cara Menjaga Stamina Tubuh Agar Tidak Mudah Menurun Setiap Hari

Related Articles

Back to top button