Lestari Moerdijat Fokus pada Peningkatan SDM untuk Mengatasi Kesenjangan Kualitas Museum

Jakarta – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menekankan bahwa terdapat kesenjangan yang signifikan antara pengelolaan Museum Nasional dan museum-museum di daerah. Ia berpendapat bahwa tantangan utama yang dihadapi dunia permuseuman di Indonesia bukanlah sekadar pembangunan gedung baru, melainkan lebih kepada peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelola museum di daerah. “Kesenjangan antara museum nasional dan museum daerah sangat besar,” ungkap Lestari dalam keterangan tertulisnya, pada Senin (12/10), bertepatan dengan peringatan Hari Museum Indonesia yang diperingati setiap 12 Oktober. Ia menegaskan bahwa kemajuan yang telah dicapai oleh Museum Nasional perlu disebarluaskan ke seluruh daerah, agar peningkatan kualitas dapat terjadi secara merata.
Data Museum di Indonesia: Tantangan dan Peluang
Sesuai dengan data dari Kementerian Kebudayaan hingga April 2026, terdapat 516 museum di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 373 museum, atau sekitar 72,3%, telah terdaftar, dan 234 museum, atau 45,3%, telah memenuhi standar pengelolaan tipe A, B, atau C. Ini menunjukkan bahwa hampir separuh museum yang ada di Indonesia belum memenuhi standar pengelolaan dasar yang diperlukan. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pengelola museum daerah, termasuk Lestari Moerdijat, yang melihat bahwa keterbatasan SDM menjadi penghambat utama dalam upaya peningkatan kualitas pengelolaan museum.
Keterbatasan SDM: Akar Masalah
Lestari, yang akrab disapa Rerie, menyoroti bahwa keterbatasan kemampuan SDM di museum daerah merupakan akar dari berbagai permasalahan yang dihadapi. Keterbatasan ini berpengaruh pada kemampuan daerah dalam mengelola anggaran revitalisasi, serta menyusun tata pamer dan narasi museum yang berkualitas. “Perbedaan kemampuan antara para pengelola museum di pusat dan daerah sangat mencolok,” kata legislator dari Fraksi Partai NasDem ini.
Ia memberikan contoh konkrit dari permasalahan yang ditemui di daerah pemilihannya. Ketika daerah mendapatkan dukungan anggaran, sering kali keterbatasan pemahaman pengelola membawa kepada revitalisasi yang lebih fokus pada pembangunan fisik, ketimbang penguatan substansi museum. Hal ini tentu berdampak pada kualitas pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
Revitalisasi Museum: Prioritas dan Pendampingan
Pemerintah telah merencanakan revitalisasi hampir 200 museum dan cagar budaya sampai tahun 2026, dengan salah satu fokus utama adalah memperbaiki ruang pamer agar lebih menarik bagi generasi muda. Namun, Rerie menekankan bahwa perbaikan tata pamer tidak akan efektif tanpa adanya pendampingan yang memadai. Ia mendorong adanya penguatan mekanisme pendampingan dari institusi-institusi yang memiliki kapasitas, agar pemerintah daerah dapat merancang pengembangan museum sesuai dengan kaidah pengelolaan yang tepat.
Peran Komunitas dan Media
Selain itu, Rerie juga menekankan pentingnya keterlibatan komunitas dan media dalam menjaga keberlangsungan museum serta situs cagar budaya. Menurutnya, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan gedung museum; yang menjadi masalah adalah kurangnya orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang cara mengelola, menarasikan, dan membuat warisan budaya tetap relevan bagi generasi mendatang. “Sejatinya, kita memiliki banyak potensi yang belum dimanfaatkan secara maksimal,” tegasnya.
Strategi Peningkatan SDM untuk Museum
Dalam rangka mengatasi kesenjangan kualitas pengelolaan museum, beberapa strategi dapat diimplementasikan untuk meningkatkan SDM para pengelola museum di daerah. Berikut adalah beberapa langkah penting yang perlu diambil:
- Pendidikan dan Pelatihan: Mengadakan program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pengelola museum.
- Kerjasama dengan Institusi Pendidikan: Membangun kemitraan dengan universitas dan lembaga pendidikan untuk mengembangkan kurikulum yang relevan.
- Workshop dan Seminar: Menyelenggarakan workshop dan seminar yang menghadirkan ahli di bidang permuseuman untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.
- Pemberian Beasiswa: Menyediakan beasiswa bagi pengelola museum untuk melanjutkan pendidikan di bidang yang terkait.
- Pengembangan Jaringan: Membangun jaringan antar museum untuk berbagi best practices dan sumber daya.
Menjaga Kualitas Melalui Standarisasi
Salah satu cara untuk memastikan bahwa museum di daerah mampu bersaing dengan museum nasional adalah melalui standarisasi. Ini meliputi penetapan kriteria yang jelas mengenai pengelolaan, tata pamer, dan narasi museum. Dengan adanya standar yang jelas, pengelola museum dapat lebih mudah menilai kekuatan dan kelemahan mereka, serta merencanakan langkah-langkah perbaikan yang diperlukan.
Lebih lanjut, implementasi standar ini juga akan membantu meningkatkan kepercayaan publik terhadap museum. Ketika masyarakat melihat bahwa museum dikelola dengan baik dan memiliki konten yang berkualitas, mereka akan lebih termotivasi untuk mengunjungi dan berpartisipasi dalam kegiatan yang diadakan oleh museum tersebut.
Peran Pemerintah dan Kebijakan Pendukung
Pemerintah memiliki peran kunci dalam mendukung peningkatan SDM di sektor permuseuman. Selain menyediakan anggaran untuk revitalisasi, pemerintah juga perlu menetapkan kebijakan yang mendukung pengembangan SDM. Kebijakan ini harus mencakup insentif bagi pengelola museum yang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pengelolaan melalui pelatihan dan pendidikan.
Rerie juga menyarankan agar pemerintah melakukan evaluasi rutin terhadap pengelolaan museum. Dengan melakukan evaluasi, pemerintah dapat mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dan mengidentifikasi area yang masih perlu diperbaiki.
Inovasi dalam Pengelolaan Museum
Inovasi menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan daya tarik museum, terutama bagi generasi muda. Museum perlu menerapkan teknologi terbaru dalam pengelolaannya, seperti penggunaan augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) untuk memberikan pengalaman yang lebih interaktif kepada pengunjung. Selain itu, pengelola museum juga dapat memanfaatkan media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan berinteraksi secara langsung dengan pengunjung.
Kesadaran Masyarakat akan Pentingnya Museum
Peningkatan SDM di sektor permuseuman juga harus diimbangi dengan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya museum. Kampanye edukasi yang menjelaskan peran museum dalam pelestarian budaya dan sejarah sangat diperlukan. Masyarakat perlu memahami bahwa museum bukan hanya tempat untuk melihat koleksi, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar dan menghargai warisan budaya.
Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, diharapkan kunjungan ke museum dapat meningkat, yang pada gilirannya akan mendukung pengelolaan museum yang lebih baik.
Menghadapi Tantangan Masa Depan
Di tengah tantangan yang dihadapi oleh museum di Indonesia, penting bagi kita untuk tetap optimis. Dengan fokus pada peningkatan SDM, penguatan jaringan antar museum, dan dukungan dari pemerintah serta masyarakat, kita dapat mengatasi kesenjangan yang ada. Hal ini bukan hanya tentang pengelolaan museum, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai dan melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang.
Melalui langkah-langkah konkret dan kolaboratif, diharapkan museum di Indonesia dapat menjadi lebih berkualitas dan relevan, sehingga mampu menarik perhatian generasi muda serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
➡️ Baca Juga: Tragedi Shalat Jumat di Nigeria: Geng Motor Serang Masjid dan Culik 60 Jemaah
➡️ Baca Juga: Harga Tiket Konser LANY Jakarta 2026: Estimasi Berdasarkan Harga 2024 yang Perlu Diketahui




