Transformasi Kampung Nelayan Muara Angke: Dari Lingkungan Kumuh Menjadi Layak Huni dengan Akses Ekonomi yang Meningkat

Tak dapat dipungkiri lagi, transformasi kampung nelayan Muara Angke di Jakarta Utara sungguh mencolok. Di masa lalu, warga selalu dilanda ketakutan setiap kali terjadi banjir rob, namun kini suasana lebih tenang. Kemajuan ini disebabkan oleh pembenahan infrastruktur oleh pemerintah, termasuk pembangunan rumah panggung dan rumah apung yang memungkinkan warga tidur nyenyak tanpa khawatir banjir. Bahkan, jalanan yang sebelumnya hanya terbuat dari kulit kerang kini telah menjadi jalanan bertabur beton yang memungkinkan mobil bergerak dengan mudah untuk mengangkut hasil tangkapan ikan para nelayan.

Dulu, suasana permukiman sangat kumuh sehingga anak-anak kesulitan mencari tempat bermain. Namun, sekarang mereka memiliki area bermain yang cukup luas, ditambah dengan lapangan futsal yang dapat digunakan kapan saja. “Saya merasa beruntung tinggal di kampung nelayan ini. Hidup saya telah berubah menjadi lebih baik dan tempat tinggal saya menjadi lebih nyaman,” ungkap Warya, seorang nelayan pencari kerang hijau yang tinggal di Kampung Nelayan Muara Angke.

Kampung Nelayan Muara Angke adalah bagian dari program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Program ini melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman untuk merancang dan menciptakan kampung-kampung nelayan di seluruh Indonesia. Di Kampung Nelayan Muara Angke, rumah-rumah nelayan dibuat mengapung dan pemerintah juga membangun rumah panggung untuk menghindari banjir rob. Selain itu, setiap rumah panggung dan apung juga dilengkapi dengan panel surya dan toren untuk menyimpan air bersih.

“Kini, keadaan jauh lebih baik. Semua rumah sudah berbentuk panggung, berkat bantuan Pak Prabowo. Tidak ada lagi banjir. Dahulu, banjir sering terjadi dan rumah kami pun ikut terendam. Namun, sekarang semua telah berubah, semua rumah telah dibangun tinggi,” kata Sunenti, seorang pengupas kulit kerang.

Sunenti juga merasa bersyukur karena pendapatannya telah meningkat. Dahulu, harga kerang sangat murah, hanya Rp3.500 per kilogram (kg), namun kini harga tersebut telah meningkat hingga sepuluh kali lipat. “Meski kerang lebih enak di masa lalu, namun uang yang saya dapatkan sekarang jauh lebih baik. Dahulu, kerang masih murah Rp3.500, namun sekarang harganya antara Rp30 ribu hingga Rp35 ribu,” kata perempuan asal Indramayu, Jawa Barat, yang telah tinggal di Kampung Nelayan Muara Angke selama beberapa dekade.

Peningkatan pendapatan juga dirasakan oleh Feri Setyawan, seorang pedagang ikan. Sebelum area permukiman dibenahi, dia hanya bisa membawa ikan dari para nelayan dengan menggunakan sepeda motor dan hanya dapat membawa satu atau dua boks, sekitar 50 kg. “Sekarang, kondisinya jauh lebih baik. Saya bisa membawa satu ton ikan, menggunakan mobil,” kata Feri. Hal ini terjadi karena akses jalan menuju tempat kapal nelayan bersandar telah membaik.

Perubahan positif juga dirasakan oleh anak-anak. Dimas Rangga Saputra, anak seorang nelayan yang tinggal di sana, mengaku menemukan banyak alternatif untuk bermain. Di Kampung Nelayan Muara Angke kini terdapat dua area bermain, yakni taman bermain dan lapangan futsal. “Sekarang jauh lebih baik. Dahulu, tidak ada taman dan tempat bermain lainnya,” kata Dimas.

➡️ Baca Juga: Ganda Putra Raymond/Joaquin Raih Pengalaman Berharga Usai Melaju ke Semifinal All England 2026

➡️ Baca Juga: Aturan Baru Mendagri: Kepala Daerah Wajib Siaga Jelang dan Pasca Idul Fitri 1447 H

Exit mobile version