Transformasi Nasyid di Madani Talks, Nusa Ekselen dan U_SUA International Mendorong Seni Dakwah Global

Perhelatan Madani International Film Festival (MIFF) 2026 yang keenam kalinya mengusung tema “Rhizome” (Rimpang) kembali memfasilitasi dialog seni dan budaya yang bersifat inklusif. Salah satu program yang menarik perhatian adalah Performance Lecture “Nasyidmorfosis” yang dipresentasikan oleh Dr. Agus Idwar Jumhadi, akrab disapa Guswar. Acara ini berlangsung di Teater Wahyu Sihombing, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Keberagaman Peserta dalam Madani Talks
Acara yang berlangsung dengan suasana hangat dan meriah ini dihadiri oleh sejumlah musisi dan tokoh seni religi yang dikenal luas, termasuk Opick, grup musik Snada, pelopor rap nasyid Ebith Beat A, serta Rosdi Zahari dari grup The Zikir (Malaysia). Hadir juga Rantala Sikayo, pendiri PT Nusa Indonesia Cipta Ekselen (Nusa Ekselen) dan perwakilan U_SUA International.
Komitmen Terhadap Seni dan Dakwah
Rantala Sikayo menyatakan, “Karya ‘Nasyidmorfosis’ yang diinisiasi oleh Dr. Agus Idwar menunjukkan bahwa seni dan nilai-nilai spiritual dapat terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan budaya populer tanpa kehilangan esensi dakwahnya. Pencapaian ini sejalan dengan komitmen kami di Nusa Ekselen dan U_SUA International dalam memperkuat kompetensi, menyediakan edukasi berkualitas, serta membangun jejaring budaya bernilai jangka panjang yang menghubungkan potensi lokal dengan arena internasional.”
Pendekatan Inovatif dalam Seni Dakwah
Rantala juga menambahkan bahwa pendekatan inovatif seperti Performance Lecture ini sangat relevan dalam menggabungkan aspek estetika, etika, spiritualitas, dan kreativitas. Hal ini sejalan dengan prinsip keunggulan (Nice to Excellent) yang diusung oleh Nusa Ekselen.
Nasyidmorfosis: Refleksi Transformasi dan Adaptasi Seni Dakwah
Konsep Nasyidmorfosis yang diperkenalkan dalam Madani Talks berasal dari riset akademik disertasi Doktor Ilmu Dakwah Dr. Agus Idwar dari Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta yang berjudul “Paradigma Dakwah Trilogi Nasyid Dalam Budaya Populer di Indonesia”. Penelitian ini mengupas tuntas bagaimana nasyid tidak bersifat statis, melainkan terus berevolusi—baik dari segi munsyid, lirik, musik, kemasan, hingga cara penyampaian kepada masyarakat.
Pilar-Pilar Trilogi Nasyid
Dalam presentasinya, Dr. Agus Idwar menguraikan pentingnya pilar Trilogi Nasyid yang meliputi kemasan yang adaptif, lirik yang kontekstual, dan sosok munsyid sebagai representasi nilai. Ia juga memperkuat konsep ini dengan dua strategi kreatif:
- Integrasi estetika dalam penyampaian pesan dakwah.
- Penggunaan media modern untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Performance Lecture: Menyampaikan Sejarah Lewat Melodi
Acara Performance Lecture dibuka dengan penampilan kolaboratif antara Snada dan Guswar yang membawakan lagu ikonik “Assalamualaikum”. Penampilan ini mengajak audiens untuk menyelami perjalanan historis nasyid acappella di Indonesia. Setelah itu, Ebith Beat A, sebagai pionir rap nasyid Indonesia, tampil dengan lagu “24 Tahun” dan “Muslim United”, yang pernah ditampilkan dalam Muslim Day Parade di New York, Amerika Serikat.
Kolaborasi Budaya dalam Nasyid
Grup Snada kembali memukau panggung dengan lagu “Neo Shalawat”, sebuah karya eksplorasi acappella yang multibahasa dan multidisiplin, yang telah mengantarkan mereka meraih Platinum Award. Kehadiran Rosdi Zahari dari grup The Zikir (Malaysia) juga menambah warna dialog budaya ini dengan memberikan wawasan tentang perkembangan nasyid di tingkat regional.
Tentang PT Nusa Indonesia Cipta Ekselen
PT Nusa Indonesia Cipta Ekselen adalah perusahaan yang menyediakan layanan strategis berbasis ekosistem terpadu, beroperasi dengan semangat Nice to Excellent. Nusa Ekselen memiliki tiga pilar utama layanan: NICE Learning (pelatihan profesional, konsultasi pendidikan internasional, dan Sertifikasi Profesi BNSP), NICE MICE (perencanaan dan penyelenggaraan MICE), serta NICE Trip (perjalanan terencana, wisata umum, dan Umroh/Haji).
Tentang U_SUA International
U_SUA International adalah organisasi yang berkomitmen untuk mendukung perkembangan seni dan dakwah di tingkat global. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, mereka berupaya untuk menciptakan platform yang memungkinkan pertukaran budaya serta penguatan nilai-nilai spiritual dalam seni.
Transformasi nasyid dalam konteks seni dakwah tidak hanya mencerminkan perubahan dalam bentuk dan penyampaian, tetapi juga menciptakan peluang baru untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan pendekatan yang inovatif dan adaptif, seni nasyid diharapkan dapat terus relevan dan memberikan dampak positif dalam masyarakat, baik di tingkat lokal maupun internasional.
➡️ Baca Juga: Cobolli Raih Kemenangan Usai Konsumsi Permen, Pegula Terus Dominasi di Cincinnati Masters
➡️ Baca Juga: Gambar Pertama yang Dilihat Dapat Menunjukkan Apakah Kamu Pekerja Keras atau Mudah Kewalahan




